Wednesday, March 19, 2014

Aplikasi Silat dalam Kehidupan Sehari-Hari

   Banyak orang berfikir bahwa belajar Silat itu hanya untuk berkelahi atau untuk melatih kekuatan badan. memang benar, secara jasmani belajar silat itu dapat membantu menyehatkan badan dan juga dapat digunakan untuk self defence (membela diri) apabila memang diperlukan.Tetapi, dalam pengertian yang lebih mendalam, belajar silat bukan hanya untuk melatih otot atau mungkin untuk perkelahian, tetapi lebih melatih kepada pembentukan karakter, rasa/perasaan/kepekaan serta pola pikir kita, dimana kita dituntut untuk dapat mengaplikasikan setiap pelajaran yang kita dapat didalam kehidupan kita sehari-hari. 
   Berlatih Silat itu bagi yang sudah paham adalah lebih mengedepankan akal dari pada otot, dimana kita memaksimalkan kerja otak kita yang dibackup dengan kondisi fisik kita yang prima, bukan sebaliknya. kekuatan fisik dari pada berlatih Silat hanyalah sebagai penunjang bagi kinerja otak kita agar dapat berfikir lebih baik dan rasional, serta untuk melatih rasa/perasaan/kepekaan kita, melatih kita agar lebih peka terhadap keadaan sekitar, terhadap apa yang kita lihat dan kita alami. hingga pada puncaknya kita dapat menjadi manusia yang berBudi Luhur serta bermanfaat bagi sekitar.
     Selain dari pada kemampuan beladiri, seni, dan olahraga, dalam prinsip-prinsip Silat, jika kita mau melihat secara utuh, terdapat banyak sekali ilmu, seperti layaknya perguruan tinggi. Ilmu Fisika, Biologi, Biomekanik, Psikologi, Ekonomi, Manajemen, Akuntansi, Bahasa, Antropologi, Sosiologi, Komunikasi, Kepemimpinan, Ontologi dan lain-lain yang semua terbungkus dalam rangkaian Filosofi Silat.
      Sebagai contoh hubungan antara Silat dan Kepemimpinan
(Pemaksimalan kinerja otak & rasa/kepekaan yang ditunjang dengan fisik yang prima)

Contoh 1:

      Dalam pembentukan seorang pemimpin yang sejati, sering kita menemukan kata bahwa kemampuan menjadi pemimpin diri sendiri adalah syarat seorang pemimpin. Sun Tzu yang bukunya telah ribuan tahun dan dipakai sampai sekarang mengatakan:

" Knowing others is intelligence, but knowing yourself is true wisdom. Mastering others is a strength, but mastering yourself is a true power."

     Dalam filosofi silat, sering kita temui kata salah satu tujuan berSilat adalah "AJI DIRI" (be the master of oneself atau jadi penguasa bagi diri sendiri karena kenalnya kita akan diri kita)
Silat Minang ada yang mengatakan bahwa Silek adalah plesetan dari suluk atau jalan untuk mengenal eksistensi Tuhan melalui pemahaman terhadap diri sendiri.
      Sederhananya, Silat mengajarkan kita untuk menjadi Pemimpin terhadap diri kita sendiri. Dan ini ada cikal bakal menjadi pemimpin 

Contoh 2:

    Dimanapun buku mengenai kepemimpinan selalu mengedepankan mental yang kuat. Dapat menjadi inspirator dan tidak patah atau kalah ketika harus bergerak mundur. Kita bisa temukan dalam Silat juga teori teori ini Yang paling gampang mungkin dari salah satu Silat di DIY:

"Padha wanine, oja nganti kalah, syukur nek menang"

   Ini adalah Filsafat yang merefleksikan secara sekaligus kemantapan dan keyakinan pada diri sendiri, usaha yang optimal dan sekaligus keikhlasan menerima hasil sebagai bagian dari proses pendewasaan.
      Tulisan ini gak begitu indah memang. Tapi seperti kata almarhum Pak Dirdjo, pendiri Perisai Diri.

 " Silat yang ampuh, biasanya gerakannya sangat jelek."


     Mengenai beladiri import. Ada cerita seorang Grand master Karate berkata pada Presiden Soekarno setelah melihat Gubes Mustika Kwitang bermain golok: Kalau Indonesia punya Silat yang hebat seperti itu, Indonesia tidak perlu belajar Karate dari orang Jepang.

Belajar Silat bukanlah untuk menjatuhkan lawan,
Belajar Silat bukanlah untuk melukai lawan,
Tetapi belajar Silat adalah untuk memperbanyak kawan.
Gunakan akalmu karena engkau telah dikaruniai akal oleh Sang Pencipta,
Gunakan Hatimu, agar engkau menjadi lebih berarti.
Gunakan akal dan hatimu agar engkau menjadi manusia sejati.
Seorang kesatria bukanlah orang yang dapat menjatuhkan lawannya, tetapi adalah orang yang mampu mengalahkan dirinya sendiri, karena Jihad yang paling utama adalah jihad seseorang  melawan hawa nafsunya.




Tulisan Lepas oleh

Mas Gusti Ahmad Maulana ( AMI )